Saturday, May 22, 2010

GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI SEMARANG

Keadaan Geomorfologi dan Geologi Semarang dan Sekitarnya

Secara garis besar keadaan geomorfologi dan geologi Semarang dan sekitarnya dapat dibedakan menjadi dua sub unit yaitu, daerah perbukitan di bagian selatan dan dataran aluvial pantai disebelah selatan dan dataran pantai di bagian utara.

a.) Daerah Perbukitan

Daerah perbukitan ini terletak di bagian selatan yang masih dapat di kelompokkan menjadi :

1. Volkan Ungaran

Volkan Ungaran yang ada sekarang ini adalah volkan Ungaran muda yang terbentuk dari aktivitas magma pada awal holosen, yaitu sesudah peruntuhan kerucut utama Ungaran tua. Volkan ini terletak di sebelah selatan Semarang dengan jarak ± 25 km. berdasarkan bentuknya volkan ini dapat di golongkan ke dalam volkan strato. Hal ini karena pada lereng dan kaki volkan terdiri dari bahan lepas seperti breksi lahar dan lapisan tuff. Volkan Ungaran mempunyai beberapa puncak, dari puncak-puncak inilah terjadi aliran lava berbentuk lidah mengalir turun ke segala arah. Pada lerengnya masih Nampak adanya bekas (sisa Ungaran tua, yang mencapai ketinggian antara 1300-1600 mdpl). Sekarang volkan ini pada fase istirahat, sehingga yang ada berupa gejala-gejala post volkanis seperti sumber air panas, sumber gas belerang di dekat kompleks candi Gedong Songo.

GAMBAR : Peta Geologi Semarang

2. Plato Breksi Notopuro

Plato Breksi Notopuro adalah daerah di sekitar kompleks Ungaran yang di batasi oleh escarpment (lereng terjal bekas patahan) yang berbentuk lingkaran. Patahan-patahan transversal yang melingkar ini terjadi ketika peruntuhan kerucut volkan Ungaran tua pada akhir Pleistosen. Di bagian utara patahan ini memotong plato breksi notopuro dengan bukit candi. Plato breksi notopuro seluruhnya tertutup oleh bahan-bahan volkanik yang terdiri dari breksi lahar, konglomerat, kerikil, batu pasir, dan tuff hasil erupsi volakn Ungaran tua. Dewasa ini bagian permukaan plato mengalami proses erosi sehingga terjadi lembah-lembah yang berbentuk huruf “V”.


3. Perbukitan Candi (Bukit-Bukit Lipatan)

Perbukitan Candi adalah termasuk pegunungan lipatan yang terletak di sebelah utara plato breksi notopuro. Perbukitan ini meliputi daerah selebar antara 4 - 8 km, dengan bukit-bukit yang tidak teratur letaknya pada ketinggian rata-rata 100 mdpl.

Lipatan-lipatan pada Bukit Candi terjadi akibat peluncuran ke bawah kerucut volkan Ungaran Tua pada waktu peruntuhan, sehingga dataran di sebelah utaranya terdesak dan terlipat.

Batuan dasar Bukit Candi terdiri dari lapisan Notopuro dan lapisan Seri Damar. lapisan Semi Damar adalah lapisan sedimen klastika dari Ungaran tua. Batuan seri dammar dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu: (1) Seri Damar Bawah, terdiri dari konglomerat bercampur dengan komponen batu kapur, pasir dan tanah liat; (2) Seri Damar Tengah, terdiri dari breksi bercampur dengan komponen batu kapur, batu pasir dan tanah liat; (3) Seri Damar Atas, terdiri dari batu pasir, tuff, dan berselingan dengan lapisan endapan marine yang berupa tanah liat napalan yang mengandung pasir.

b.) Datarn Aluvial Pantai

Dataran aluvial pantai merupakan daerah yang mempunyai struktur horizontal, dan terjadi karena hasil pengendapan material di pantai laut. Daerah ini mempunyai ketinggian rata-rata kurang dari 200 dpal.

Daerah aluvial pantai Semarang adalah daerah yang ada di bagian utara, dan di apit oleh bukit candi di sebelah selatan dan laut Jawa di sebelah utara. Daerah aluvial pantai yang membujur dari arah barat-timur sepanjang pantai utara Jawa. Lebar dataran ini antara 3-4 km, tetapi di antara Weleri dan Kaliwungu (muara Kali Bodri) lebarnya mencapai 16 km.

Dataran aluvial pantai ini mempunyai relief yang lebih halus, dan agak miring ke arah utara. Delta kali Garang misalnya, di tepi laut ketinggian sekitar 1.5 m, bahkan disekitar pelabuhan hanya 0.5 m, tetapi ke arah selatan berangsur-angsur naik mencapai ketinggian antara 5-7 m di perbatasan dengan bukit candi. Batuannya berupa endapan marine holosen ayng sebagian besar terdiri dari lempung dan pasir, dengan ketebalan rata-rata 50 m.

Dalam perkembangannya dataran aluvial pantai Semarang di tandai adanya bentuk-bentuk :

1. Dataran Delta Kali Garang

Endapan aluvial pantai di sebelah utara bukit candi meliputi tiga delta, yaitu delta kali Bodri (bagian barat); delata Kali Garang (bagian tengah); delta kali pengkol (bagian timur).

Delta kali garang terbentuk dari aluvial fans yang mengalami penenggelaman, yang terdiri dari sisipan-sisipan pasir lempung. Hal ini berdasarkan analisis terhadap profil pengeboran sumur-sumur artesis yang tersebar di Semarang.

Aluvium sepanjang sungai ketebalannya antara 1-3 m, yang terdiri dari kerikil dangan bongkah-bongkah terkumpul pada dasarnya, kemudain di tutupi oleh pasir dan lanau. Bongkah-bongkah kebanyakan berupa batuan volkanik terutama andesit.

Pembentukan delta kali garang melalui tiga fase, yang mana setiap fase pembentukan bukit/gumuk pantai (beach ridge) dan tanggul alam sungai (natural levee), sehingga arah aliran sungai akan berubah dan arah pertumbuhan delta juga berubah.

Terbentuknya delta kali garang disebabkan karena banyaknya material yang mengangkut 15 gr debu kering per liter. Dari tahun 1956-1968 (selama 12 tahun) endapan yang disalurkan kali garang dekat asrama polisi Kalisari tebalnya 1,5 m. ini berarti rata-rata 12,5 cm tiap tahunnya.

Pada waktu pembentukan delta yang pertama di kanan-kiri sungai terbentuk beting pantai yang makin lama makin tinggi, sehingga akan membentuk bukit pantai. Bukit pantai ini terbentuk dari endapan yang di bawa oleh sungai kearah laut, tetapi kemudian dikembalikan oleh ombak ke arah pantai. Di antara bukit pantai dan pantai terjadi laguna (bagian laut yang terpisah dengan laut bebas oleh beting pantai). Laguna ini menjadi tempat penampungan sedimen, baik yang berasal dari darat dan air laut melalui saluran pasang (tetapi kini telah hilang). Dengan demikian pertumbuhan pantai di percepat, tetapi perkembangan delta kea rah laut terhalang.

Sesudah delta ke dua terbentuk dengan arah timur laut, namun perkembangannya tehalang oleh tanggul-tanggul alam kali candi (sekarang kira-kira terletak pada jalan Mataram dan jalan Dr. Cipto). Dengan terbentuknya delta ke dua kali garnag dan tanggul alam kali candi, maka terbentuklah laguna di darat yang dinamakan Rwa delta (sekarang kira-kira terletak di sekitar lapangan Pancasila/Simpang Lima, Atmodirono, dan lapangan/stadion Diponegoro).

Penampungan sedimentasi dari bukit candi dalam rawa delta belum mencapai base level of deposition nya, sehingga daerah ini berbentuk cekung seperti mangkuk. Oleh sebab itu seperti turun hujan, akan terjadi genangan air.

Pembentukan delta ke dua di samping terhalang oleh bukit pantai ke dua.hal ini menyebabkan arah aliran kali garang membentuk ke arah barat laut (kira-kira sekarang belokan ini di kampung kuningan), dan selanjutnya fase pembentukan delta ke tiga mulai terjadi.

2. Tanggul Alam (Natural Levee)

Tanggul alam suatu sungai terbentuk karena pengendapan material yang diangkut oleh sungai dan diendapkan di kanan-kiri sungai pada waktu banjir. Terbentuknya tanggul alam pada kali candi sangat banyak. Hal ini kemungkinan karena kecepatan aliran yang lebih kecil, pengendapan material dalam jumlah yang besar hanya pada waktu banjir. Arah tanggul ini kira-kira sepanjang jalan Mataram dan Dr. Cipto.

3. Bukit Pantai (Beach Ridge)

Bukit pantai adalah deposit/endapan material laut yang berupa igir kecil yang letaknya sejajar pantai. Bukit pantai ini terbentuk dari endapan-endapan sepanjang pantai yang dikembalikan oleh hempasan ombak dan ditimbun sebagai beting-beting yang membujur sepanjang pantai.

Di dataran aluvial Semarang minimal ada tiga bukit pantai. Terjadinya bukit-bukit ini karena adanya perubahan imbangan antara sedimentasi di muka pantai dengan intensitas hempasn gelombang. Rubahan imbangan ini di sebabkan karena penyimpangan iklim yang menyebabkan perubahan banyaknya material yang di angkut sungai dan rubahan kekuatan gelombang.

Beberapa tempat, misalnya Tawangaglik Kidul terdapat sungai yang airnya tawar sedangkan air sekitarnya asin. Hal ini menunjukkan adanya lapisan pasir yang merupakan ciri daerah endapan.

4. Dataran Sungai (Fluvial Plain)

Dataran sungai adalah dataran yang terdapat di kanan-kiri sungai, terjadi karena hasil pengendapan material yang di angkut sungai. Material pembentukan dataran sungai Kali Garang (Semarang Barat) dan Kali Pengkol (Semarang Timur) berasal dari Plato Breksi Notopuro dan Bukit Candi. Dataran sungai pada bagian bawah lembah Kali Garang (pertemuan Kali Garang dan kali kripik di Sukorejo sampai pada Simongan), lebarnya mencapai beberapa puluh sampai beberapa ratus meter.

5. Rawa Delta

Rawa delta yang di maksudkan adalah rawa yang terjadi dalam proses pembentukan suatu delta. Rawa delta Semarang sekarang berupa komplek lapangan Pancasila (Simpang Lima), sekitar stadion Diponegoro, Atmodirono. Rawa delta terletak pada pusat depresi yang di kelilingi oleh delta Kali Semarang, tanggul alam Kali Candi dan perbukitan Candi.

6. Laguna

Laguna adalah bagian laut yang terpisah dari laut bebas oleh beting pantai. Daerah bekas laguna di dataran aluvial Semarang terdapat diantara bukit-bukit pantai yang satu dengan yang lain. Daerah ini berupa cekungan yang tergenang air.

7. Daerah yang Dipengaruhi oleh Pasang

Daerah yang mempengaruhi oleh pasang terdapat di bagian utara dataran aluvial dan langsung berbatsan dengan laut. Daerah ini sekarang berupa pertambakan, tetapi sudah ada kecenderungan untuk tempat pemukiman (perumahan). Ketinggiannya rata-rata kurang dari 2 m, sehingga pada waktu pasang naik terjadi genangan air.

Bentuk-bentuk dataran delta Kali Garang, tanggul alam, bukit pantai, dataran sungai, rawa delta, laguna, dan daerah pasang yang menandai perkembangan dataran aluvial pantai Semarang penyebarannya.

Menurut Van Bemmelen dataran aluvial pantai Semarang tumbuh dengan cepat ke arah utara. Berdasrkan peta-peta Semarang tahun 1695, 1719, 1816/1842, 1847, 1892, dan tahun 1940 dapat diketahui bahwa proses pelumpuran selama 2,5 abad sudah menghasilkan daratn pantai selebar kira-kira 2 km. hal ini berarti bahwa pertambahan daratan ke arah laut utara rata-rata mencapai 8 meter tiap tahunnya.

Oleh karena daratan aluvial pantai Semarang sampai tahun 1940 lebarnya mencapai 4 km, maka dapat diperkirakan 5 abad yang silam pantai laut Semarang pada tepi bukit Candi. Kemungkinan pada 5 abad yang lau muara Kali garang merupakan pelabuhan alam untuk daerah Semarang. Muara Kali Garang pada waktu itu berada di belakang pulau kecil Bergota (sekarang mencakup daerah Bergota dan daerah Mugas).

Pertumbuhan pantai dewasa ini menunjukkan lebih cepat yaitu rata-rata sekitar 12 meter tiap tahunnya. Hal ini karena penggundulan di daerah perbukitan Candid an lereng Ungaran, sehingga erosi berjalan dengan cepat.

Friday, May 21, 2010

Ketika Sinar Matahari Semakin Terperangkap


Sebagai salah satu dampak global warming, pancaran sinar matahari yang semakin tajam menusuk bumi diprediksi bakal melelehkan gunung es di kutub dan menenggelamkan pulau-pulau di sekitarnya. Kenapa bisa begitu?

Dalam prosesnya, sinar matahari yang memancar ke bumi sebagian akan dipantulkan kembali untuk menghindari panas berlebihan demi kelangsungan makhluk hidup di dalamnya. Proses pemantulan ini berlangsung setiap hari sebagai fenomena normal alam.

Fenomena ini hanya bisa berjalan dengan baik jika jumlah gas rumah kaca di atmosfir masih dalam taraf normal dan mampu ditembus oleh sinar matahari yang dipantulkan dari permukaan bumi. Namun jika konsentrasi gas-gas rumah kaca semakin tinggi, maka pantulan sinar matahari dari permukaan bumi tidak akan mampu lagi menembus pertahanan gas-gas ini. Dengan begitu, sinar sang surya akan tertahan dan terperangkap di permukaan bumi. Otomatis hal ini akan mengakibatkan bumi semakin panas dan segala dampak buruknya akan semakin cepat terjadi.

Kondisi inilah yang terjadi di bumi saat ini. Para pakar menyebutnya dengan istilah global warming atau pemanasan global yang telah menjadi isu utama di seluruh dunia. Diperkirakan emisi gas rumah kaca akan mencapai tingkat yang semakin mengkhawatirkan di masa yang akan datang.

Kalau tidak segera diantisipasi dan dicari jalan keluar untuk mengatasinya, maka sinar matahari akan semakin terperangkap dan siap-siap mengeluarkan panasnya yang akan mengakibatkan global effect yang menimbulkan bencana bagi kehidupan seluruh makhluk di bumi. Dampak lainnya akan memberi perubahan besar terhadap pola cuaca dan iklim, ekositim, hingga rusaknya sistem rantai makanan.

Jika hal ini terus berlanjut akan menimbulkan kekacauan yang lebih parah lagi, seperti naiknya permukaan air laut, tertutupnya berbagai daratan, terjadinya bencana alam besar, defisiensi mikronutrien, timbulnya kematian akibat malnutrisi, serta terganggunya jaring makanan plankton di laut.

Sebagaimana telah dipaparkan oleh banyak pakar, salah satu faktor utama pemicu panasnya bumi adalah karena meningkatnya kadar gas-gas rumah kaca berupa gas CO2, NO2, butiran air dan gas lainnya di atmosfir. Peningkatan konsentrasi gas ini disebabkan aktivitas eksploitasi yang berlangsung terus-menerus terhadap bahan alam di perut bumi, seperti penggalian bahan bakar fosil, pembukaan lahan baru, penebangan pohon dan pembakaran hutan akan menaikkan kadar gas-gas ini di atmosfir. Selain itu, pembuangan limbah rumah tangga yang tidak dapat didaur ulang juga memicu peningkatan konsentrasi gas ini.

Dengan segala bentuk eksploitasi alam yang berlebihan dan tidak terkendali oleh manusia, maka peningkatan konsentrasi gas-gas tersebut yang terasa semakin cepat dewasa ini akan menimbulkan tumpukan gas rumah kaca yang tebal di permukaan bumi. Efek yang muncul pada keadaan seperti ini adalah terhalangnya pantulan sinar matahari dari permukaan bumi yang selanjutnya akan memberi bencana besar kepada seluruh makhluk yang hidup di dalamnya

Sumber : http://www.kabarindonesia.com/